Siswa Baru MAN Sibolga di perkuat Nilai Moderasi Beragama

Suasana di aula Madrasah Aliyah Negeri Sibolga terasa berbeda ketika para siswa baru yang sedang mengikuti Masa Ta’aruf Siswa Madrasah (Matsama) mendapatkan materi penting dan fundamental tentang moderasi beragama.

Siswa Baru MAN Sibolga di perkuat Nilai Moderasi Beragama
Siboga (Humas) — Suasana di aula Madrasah Aliyah Negeri Sibolga terasa berbeda ketika para siswa baru yang sedang mengikuti Masa Ta’aruf Siswa Madrasah (Matsama) mendapatkan materi penting dan fundamental tentang moderasi beragama. Materi ini disampaikan langsung oleh tokoh masyarakat sekaligus Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Sibolga, Nurdiswar Jambak. Dengan pendekatan yang hangat dan komunikatif, Nurdiswar membuka materinya dengan mengajak siswa merenungkan pentingnya hidup damai di tengah keberagaman. Ia menyampaikan bahwa Indonesia adalah negara yang terdiri dari berbagai agama, suku, dan budaya. Maka menjaga harmoni dan sikap saling menghargai bukan hanya kewajiban sosial, tapi juga ajaran agama. “Moderasi beragama bukan berarti mencampuradukkan ajaran, melainkan bagaimana kita bisa menjalankan keyakinan dengan penuh toleransi dan saling menghormati satu sama lain,” ujarnya di hadapan ratusan siswa baru.Materi ini diberikan sebagai bagian dari implementasi Petunjuk Teknis Matsama Tahun 2025 yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama. Dalam juknis tersebut, penguatan nilai-nilai moderasi beragama menjadi salah satu fokus utama dalam membentuk karakter siswa madrasah yang inklusif dan cinta damai.

Kepala MAN Sibolga, Nurul Oktaviana Mekawati, menyampaikan bahwa madrasah tidak hanya mendidik siswa menjadi cerdas secara akademik, tetapi juga berakhlak mulia dan mampu hidup berdampingan secara damai dengan siapa pun. “Siswa madrasah adalah duta Islam yang ramah, bukan marah. Kita ingin mereka tumbuh menjadi generasi yang berpikiran terbuka, menghargai perbedaan, dan menjadi agen perdamaian,” ungkap kepala madrasah saat meninjau jalannya kegiatan. Dalam sesi tersebut, siswa juga diajak berdiskusi aktif, menyampaikan pandangan tentang keberagaman yang mereka temui di lingkungan masing-masing, serta bagaimana menyikapinya dengan bijak. Nurdiswar memuji keterbukaan siswa MAN Sibolga yang dinilainya sudah menunjukkan pemahaman awal tentang toleransi dan nilai-nilai kebangsaan. “Ini menunjukkan bahwa madrasah bukan tempat yang eksklusif, tapi inklusif. Tempat para generasi muda ditempa untuk membawa Islam yang rahmatan lil alamin,” tambahnya.

Materi ditutup dengan pesan agar siswa senantiasa menjunjung tinggi ajaran agama tanpa merasa paling benar sendiri. Moderasi, kata Nurdiswar, adalah cara untuk menjaga ukhuwah Islamiyah, Wathaniyah, dan Basyariyah secara seimbang. Dengan diberikan materi ini di awal perjalanan mereka sebagai siswa MAN Sibolga, diharapkan seluruh peserta Matsama memiliki fondasi kuat dalam menghadapi tantangan zaman, termasuk isu intoleransi dan radikalisme yang bisa mengancam kebinekaan. (IMS)

Suara Tamu

Tinggalkan Komentar
LINK TERKAIT